REVIEW FILM: A MAN CALLED OTTO (2023)

REVIEW FILM: A MAN CALLED OTTO (2023)


Rate                                   : 9,5/10

Genre                               : drama

Nonton di                      : XXI

Review                             :

Sebuah film yang membawakan banyak emosi, mulai dari marah, senang, lucu, sedih, dll. Such a full packed movie, in my opinion. Film kayak gini tuh yang tipe aku banget hehe. That’s why, review aku di sini bakal penuh hal-hal bagus karena emang bagus banget menurut aku. Pas aku baca review orang lain, aku enggak ada clue film ini bakal kayak gimana. Eh, pas nonton aku agak kaget ketika filmnya ternyata dibawakan seperti itu. That’s why, ada imbauan mengenai trigger warning for those with mental illness.

Mengulas dari alurnya. Menurut aku, pace alurnya kayak tepat aja gitu. Bukan yang cepat juga bukan yang lambat. Mungkin bagi beberapa orang, part awalnya kerasa bertele-tele dan mungkin bisa di-skip aja diganti scene lain, tapi menurutku aku bisa menikmati part itu dengan senang-senang aja.

Chemistry antara Otto dan Marisol adalah hal pertama yang aku suka dari film ini. Apalagi aktris yang memerankan Marisol itu dia kayak natural banget ngebawain tokoh Marisol yang ramah dan periang. Aku suka baaanget sama Marisol!

Film ini memang betul penuh emosi. Yang senang yaa menyenangkan, yang lucu yaa bikin gemas, yang sedih ya udah bikin mewek. Semuanya tuh dibawakan dengan sederhana penuh kehangatan, jadi ayem gitu nontonnya aku suka.

Menurut aku, film ini tuh film yang ringan dan hangat. Penonton tinggal duduk aja dan rasakan emosi yang diberikan sama film itu. Aku nangis beberapa kali selama nonton, entah nangis karena terharu atau sedih atau senang lega. Untuk orang yang juga suka melodrama, film ini sangat worth untuk ditonton. Selain karena bisa bikin mellow, juga di film ini ada beberapa hikmah yang bisa diambil. Kindness matters.

Nah, sekarang saatnya untuk beberapa hal yang kurang aku suka. Ada scene yang menurut aku terlalu dramatis, jadi kurang realistis gitu padahal semuanya udah bagus gitu. Jadi kayak sayang banget. Scene dramatis itu adalah scene ketika kecelakaan bus. Itu menurut aku terlalu berlebihan aja kalau semuanya sampe berceceran muterin busnya. Kalau aja, scene ini dibikin lebih realistis pasti lebih bagus.

Jadi, seperti itulah ulasan aku tentang film ini.

Terima kasih sudah membaca ^^


Komentar

Postingan Populer